Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Dan roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekam apa pun yang digiatkan aktivis pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiatan pe-rumahkaca-an. …
Cerita dari Digul merupakan kumpulan tulisan karya para eka-Digulis. Mereka pernah dibuang sebagai tahanan politik semasa pemerintahan kolonial hindia-belanda. Berbagai cerita itu, yang sungguh-sungguh terjadi, mengisahkan suka-duka mereka dalam mempertahankan hidup di tanah buangan Digul, Papua Barat. Getir dan mengharukan.
“Kisah yang menyentuh hati. Benny has done it again!” --Arleen Amidjaja, penulis cerita anak “Garuda! Ayo bawa bolanya!” Bayu tersenyum. Dia biasa dipanggil garuda di lapangan itu Gara-garanya bila bola sudah dikaki Bayu, akan sulit direbut kaki pemaen lawan. Seolah Bayu mencengkeramnya sekuat burung garuda. Bayu pun bisa melesat cemat menyambar bola di kaki lawan. Kata …
keseluruhan isi cerita adalah tentang si aku yang memiliki banyak kenalan wanita dan kesemuanya jadi serba tidak kena, seperti bertemu perempuan asing di sebuah acara, diusik hati dengan perempuan– teman rapat si ibu, perempuan yang mencintai kamu namun sudah menikah dan mimpi menikah dengan perempuan sekian sekian dan penasaran dengan perempuan yang baru dikenali di sebuah kedai kopi. ah, me…
novel ini mengisahkan sebuah kehidupan seorang anak yang dibuang ibunya karena sang ibu adalah seorang pelacur tetapi kemudian ia harus membelanya dan menerima kenyataan bahwa pelcur yang ia bela tersebut adalah ibunya
“Salju mengingatkan saya kepada Tuhan. Salju mengingatkan saya pada keindahan dan kemisteriusan makhluk hidup, pada kebahagiaan yang paling asasi, yaitu kehidupan.” (halaman 146) Salju berkisah tentang seorang buangan politik bernama Ka. Ka adalah penyair Turki yang menganut paham ateis. Oleh karena pilihannya ia kemudian diasingkan dan diberi suaka ke Frankfurt, Jerman. Ka kemudian memu…
Wira membenci hujan. Hujan mengingatkannya akan sebuah memori buruk, menyakitinya.... Agar bisa terus melangkah, Wira meninggalkan semuanya. Ia meninggalkan kota tempat tinggalnya. Meninggalkan mimpi terbesarnya. Bahkan, meninggalkan perempuan yang disayanginya. Namun, seberapa pun jauh langkah Wira meninggalkan mimpi, mimpi itu justru semakin mendekat. Saat ia sedang berusaha keras melu…
"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.” -Ibuk- Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menika…
Hari-hari itu saya memikirkan harga jiwa manusia. Saya menulis cerita dengan semangat perlawanan, untuk melawan ketakutan saya sendiri—dan bersyukur telah mendapat pilihan untuk melakukannya. Penguasa datang dan pergi. Cerita saya masih ada.