Buku
The god of small things
Pertemuan dengan Arundhati Roy, dimulai sejak kunjungan pertamaku ke Bendungan Jatigede, Jawa Barat. Dengan melihat sendiri potret terampasnya lahan masyarakat di sana, aku pun mulai merintis penelusuran lebih lanjut terkait pendirian bendungan tersebut. Dari beberapa portal berita yang ditemukan, beberapa kali aku mendapati ulasan dan opini yang memasukan seorang tokoh penulis feminis dari India, Arundhati Roy[i], dalam konten beritannya. Diceritakan bahwa Arundhati Roy merupakan salah satu aktifis yang menolak mati-matian pendirian Dam Narmada, yang kelak mengilhami pula protes-protes terkait penolakan bendungan di seluruh dunia. Bagi Arundhati Roy, bendungan memiliki daya rusak seperti bom nuklir. Kian besar bendungan, maka ia kian merusak.
Setelah pertemuan itu, aku kembali menemukan kecemerlangan pemikiran Arundhati Roy, melalui sebuah tulisan yang diterjemahkan Dwi Cipta[ii]. Kali ini, Arundhati Roy mempersoalkan tentang kecenderungan praktik LSM yang menghamba pada kucuran dana donor di satu sisi, serta mendepolitisasi perlawanan di sisi lainya. Dengan wajah LSM semacam itu, apa yang diungkapkan oleh Arundhati Roy akan terlihat begitu monohok, seperti yang ditunjukan dalam tulisan ini; “Perlawanan Politik yang nyata tak pernah menawarkan jalan pintas….mengubah perlawanan menjadi pekerjaan yang rapi, masuk akal, bergaji, dan memiliki jam kerja dari pukul 9 pagi sampai 5 sore…”.
Tidak tersedia versi lain