Buku
Menafsir Buruan cium gue" : Kebebasan berekspresi atau kebablasan berekspresi?"
"Di masa terkekang, setiap orang yang asal "berani" sudah menjadi seorang kreatif yang dipujikan. Tapi di masa keberanian bukan lagi menjadi ukuran nilai, ekspresi dituntut dengan standar takaran yang lebih tinggi."
Putu Wijaya, budayawan, dramawan, penulis.
"...menafsir Buruan Cium Gue! dengan Buruan Zinai Gue! adalah sebuah tafsir yang keliru. Tidak dengan sendirinya seorang cewek atau cowok yang minta dicium artinya minta disebadani, meski, misalnya, cewek dan cowok itu sehari-harinya free sex." Danarto, budayawan, sastrawan, kolumnis.
"Danarto terkesan sedang menggiring para pembaca ke dalam sebuah kesimpulan yang menyesatkan: bahwasanya pembuat film itu tidak salah, para penafsirlah yang tidak tepat. Tak terkecuali yang salah di sini adalah para ulama, di antaranya Aa Gym yang menganggap judul Buruan Cium Gue sama dengan Buruan Zinai Gue." Ibnu Hamad, Direktur Institute for Democracy and Communication Research (Indicator).
"Lembaga otoritas dengan kuasa tiran mutlak kok diperbandingkan dengan suara individu-individu seperti Aa Gym yang mengutarakan apa yang mereka anggap benar dan menawarkannya kepada khalayak?"
Tidak tersedia versi lain