Buku
Munajat buaya darat: Kitab puisi
Tukang Potong
......
Ia akan menjambak-jambak rambutmu, agar kau
Tak kantuk, agar kau terjaga dan sadar
Bahwa ada yang berkurang dari dirimu
“Berjagalah, agar aku tetap ingat
Yang harus aku babat adalah rambutmu, bukan kuping
Atau lehermu yang tak terawat”
........
(Tukang Potong, hlm. 2)
Munajat Buaya Darat
......
“Inilah Surabaya, hotel tempat singgah
tapi bukan tempat berlibur, atau mengubur darah
segalanya lembur
seperti juga kapal-kapal yang berhenti lalu
berangkat, berganti-ganti
di sini, segala ranjang tak cukup dipandang,
tapi dierami
.....
(Munajat Buaya Darat, hlm. 18)
Bagi Mashuri, menulis puisi adalah kebutuhan. Dia tak peduli pada jargon sebagian orang yang menganggap akhir romantik peran penyair, juga ihwal jaman yang cenderung anti-puisi, bahkan pada dogma mereka yang bersikukuh dengan tugas kepenyairan dengan terus mengibarkan tanggung jawab penyair pada dunia dan nasib manusia. Dalam proses penulisan ini, Mashuri hanya ingin bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
Buku Munajat Buaya Darat ini adalah karya kumpulan puisi-puisi Mashuri keempat. Sebagian besar puisi-puisi di dalamnya telah mengalami penyuntingan dan pernah dipublikasikan di berbagai media.
Diakui oleh Mashuri, seharusnya Munajat Buaya Darat ini adalah kumpulan puisi kelima setelah kumpulan puisi Patigeni. Namun, Patigeni tak jadi lahir. Meski demikian, keberhasilan menerbitkan buku puisi pada era kini di sebuah negeri bernama Indonesia adalah kemewahan yang luar biasa, tulis Mashuri.
Tidak tersedia versi lain