Buku
Jejak lintasan
Jejak Lintasan mengeksplorasi estetika perlawatan dengan analogi “jejak lintasan harimau”. Yaitu, proses mencandra jarak, ruang dan waktu secara hikmat. Melintasi tempat-tempat inspiratif—sebagian besar terlupakan—di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Lombok hingga Taiwan.
Puisi-puisi di dalam buku ini dibangun dari analogi dan perspektif puitik jejak lintasan, sebuta magis di Kawasan Bukit Barisan yang ditujukan pada daerah lintasan harimau. Konon, harimau itu “bertelinga dan bermata bumi”, bisa mencandra secara tak kasat mata… Dalam konteks jejak lintasan, itulah saat seekor harimau akan mengaum, atau diam memendam rindu-dendam.
Tidak tersedia versi lain