Buku
Mata badik mata puisi
Pada tahun 1980-an Rendra memaparkan proses kreatifnya sebagai penyair di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di akhir makalahnya ia menceritakan, bahwa ia baru saja pulang dari tanah Bugis. Menyaksikan dinamika kebudayaan di sana, Rendra menyatakan mengalami cultural shock. Tentang bagaimana ia mengalami itu tak dijelaskan, karena Si Burung Merak itu buru-buru menutup pembicaraannya.
Tapi pernyataan Rendra itu cukup meninggalkan tanda tanya besar dalam hati saya, seperti apa keadaan di Sulawesi Selatan itu? Lalu saya sangat ingin ke sana. Apalagi di sana dulu ada pahlawan yang wajahnya pernah saya gambar waktu masih di Sekolah Rakyat, yaitu Sultan Hasanuddin, yang rambutnya gondrong, kumisnya sangat khas, dan sorot matanya sangat tajam. Di samping itu, sejak kecil saya ingin sekali berlayar mengarungi lautan dengan perahu Bugis yang layarnya tujuh itu. Nama Karaeng Galesong dari Makassar yang pernah bersekutu dengan Trunojoyo dari Madura dalam berjuang mengusir kompeni Belanda, pernah saya sebut dalam puisi pada awal kepenyairan saya.
Tidak tersedia versi lain