Menyoroti ketimpangan struktural kota—pemulung digeser dari berbagai tempat publik oleh modernitas. Menegaskan pentingnya reformasi sosial dan kebijakan publik: agar kota inklusif terhadap pekerja informal seperti pemulung, memberikan akses kesehatan, pendidikan, dan perlindungan hukum. Mendorong kesadaran masyarakat untuk melihat pemulung sebagai warga kota yang berharga, bukan sekadar…
Buku ini berusaha mengungkap secara jelas pikiran masyarakat Jawa yang hidup dalam bayang-bayang kesutanan Yogyakarta, khususnya mereka yang berada di sekitar keraton dan Parangkusumo terhadap mitologi Kanjeng ratu Kidul dan kekuasaan yang ada di dunia ini.