Buku
Lalu waktu
Semula saya ragu, apakah kumpulan ini bisa dan perlu dibukukan. Namun setelah saya melihat hampir semua sa-jak saya yang pernah dimuat di media massa mengalami perubahan -- salah cetak, salah lay-out, dsb. saya berpikir lain. Saya kira, semua media massa yang membuat per-ubahan tersebut telah melakukan interpretasinya sendiri. Satu hal yang sah saja, menurut saya. Seperti kalau sajak saya dibacakan orang lain, yang kerap juga membuat per-ubahan, sengaja atau tidak. Sah saja. Bahwa pada saat itu bukan penulis sajaknya saja yang hadir dalam sebuah pre-sentasi, tapi juga pembaca, pendengar, editor, ataupun pe-tugas setting. Karena itu, buku ini mendapat alasan minimal -- dan utama untuk menghadirkan penulis dalam sajaknya sendiri, sejauh mungkin.
Sebuah kumpulan seperti ini tak lain juga sebuah per-nyataan tentang kenyataan mutakhir. Tiga buah esei yang tercantum di sini pun antara lain untuk memperkuat per-nyataan tersebut. la dapat dianggap terikat atau terpisah dengan puisi-puisi yang mengelilinginya.
Terakhir, bersama rasa terima kasih sedalamnya, saya menyampaikan penghargaan pada Goenawan Mohamad, Amak Baljun, dan Tatang Ramadhan yang memungkinkan buku ini terwujud. Serta pada Eros Djarot, Renny Dja-joesman, Nobon, Yitno MB, Komara, Yudarria, Evie Afrianti, dan Lily Made yang sangat membantu proses penyusunan sebelumnya.
Tidak tersedia versi lain